Nah... Kali ini saya akan mengupas tentang teori Rousseau mengenai perkembangan manusia.. Bagi teman-teman yang sedang kepingin tahu atau ada tugas yang sesuai dengan materi bersangkutan silakan dibaca...
Teori
Rousseau mengenai perkembangan manusia
Menurut Rousseau tahap utama perkembangan
manusia terbagi jadi empat bagian :
Tahap 1. Masa bayi (dari usia 0 sampai 2
tahun).
Bayi mengalami
dunia langsung lewat inderanya. Mereka tidak mengetahui ide atau pemikiran
apapun ; mereka hanya sekedar menglami rasa enak dan rasa sakit. Meskipun begitu,
bayi sangat aktif, penuh ingin tahu dan cepat sekali belajar. Secara konstan
merreka berusaha menyentuh segala sesuatu yang bisa diraih, dan dengan
melakukannya mereka belajar tentang rasa panas, dingin, keras, lembut, dan
sifat-sifat objek lainnya . bayi-bayi juga mulai mendapatkan bahasa, yang
hampir-hampir dilakukan dengan cara mereka sendiri. Di satu titik, mereka
mengembangkan sebuah gramatika yang jauh
lebih sempurna dari pada kita; mereka menggunakan aturan-aturan gramatika baku
mereka sendiri seperti yang digunakan d dalam percakapan orang dewasa. Pada waktu-waktu
tertentu kita memperbaiki kekelruan mereka, meski sesungguhnya mereka selalu
memperbaikinya stiap waktu.
Tahap 2: masa kanak-kanak (dari usia 2
sampai 12 tahun).
Tahap ini
dimulai ketika anak-anak mndapatkan sebuah indepndensi baru; mereka sekarang
bisa berjalan, berbicara, makan sendiri, dan berlari kesana kemari. Yang pasti
mereka mengembangkan kemampuan-kemampuan
ini dengan cara mereka sendiri juga.
Selama
tahapan ini, anak-anak mulai memiliki sejenis rasio tertentu namun bukan rasio
yang sanggup menghadapi kejadian-kejadian yang jauh atau abtraksi-abstraksi. Lebih
tepatnya, jenis rasio ini terikat langsung pada gerakan tubuh dan indera. Sebagai
contoh, ketika seorang anak perempuan dapat mlemparkan bola tepat sasaran, maka
dia sedang memperlihatkan pengetauhuan intuitif manusia mengenai
velositas(kecepatan) dan jarak. Atau ketika seorang anak laki-laki menggali
tanah dengan sebatang kayu, dia menunjukkan pengetahuan intuitif mengenai
kedalaman. Namun begitu, pikiran pada tahap ini secara ekstrem masih melekat
kepada hal-hal yang konkret. Rousseau memberi contoh mengenai seorang anak
laki-laki yang membuat sebuah globe dari kertas karton lalu memenuhinya dengan
nama-nama desa, kota dan sungai. Waktu ditanya, “apakah bumi itu? “ diapun
menjawab “secarik kertas karton).
Tahap 3 : masa kanak-kanak akhir (dari
usia 12 ampai 15 tahun)
Tahap ketiga
adalah masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa. Selama periode ini,
anak-anak memperoleh sejumlah besar kekuatan fisik mereka bisa memotong kayu,
mendorong gerobak, mencangkul dan melakukan pekerjaan orang-orang dewasa. Mereka
juga membuat kemajuan yang substansial di ruang kognitif, dan mampu, sebagai
contoh, menelesaikan persoalan-persoalan rumit dalam geometri dan ilmu
pengetahuan. Meskipun begitu, mereka masih belum bisa memikirkan persoalan yang
murni teoritis dan verbal. Karena itu, latihan kognitif mereka yang terbik
adalah mengerjakan tugas-tugas konkret dan berfaedah seperti bertani,
bertukang, dan membuat peta.
Diawal tahap ketiga, anak-anak pada
kodratnya masih berwatak prasosial. Artinya, kepedulian utama mereka adalah apa
saja yang diperlukan dan berguna bagi diri sendiri,dan sedikit saja mereka
memiliki minat terhadap hubungan-hubungan sosial. Anak-anak menikmati bekerja
dengan hal-hal fisik dan belajar dari
alam; dunia buku dan masyarakat masih asing bagi mereka. bahkan diakhir tahap
ketiga ini sekitar usia 12 sampai 15 tahun, model bagi kehidupan anak-anak
masih seperti model Robinson Crusoe, seorang pria dewasa yang hidup sendirian
di sebuah pulau dan cukup dengan dirinya sendiri (self-sufficient) yang mengelola lingkungan fisiknya secara efektif.
Tahap 4. Masa dewasa.
Anak-anak
menjadi makhluk yang sepenuhnya sosial
hanya ditahap keempat, dimulai dari masa pubertas. Rousseau mengatakan bahwa
pubertas dimulai pada usia 15 tahun, suatu usia yang lebih lambat dibanding
kondisi kita sekarang. Tubuh mengalami peubahan dan hasrat mulai naik dari
dalam dirinya. “Perubahan tempramen yang sering kali mengkristal dalam
kemarahan dan sebuah pengendalian terus-menerus terhadap pikiran, membuat
seorang anak hampir-hapir tidak bisa diatur lagi” . anak-anak muda bukan lagi
anak-anak tapi juga belum menjadi orang dewasa, mulai memiliki perasaan malu
jika berhadapan dengan lawan jenis karena kesadaran terhadap perasaan-perasaan
seksualnya mulai meningkat. Dititik ini, anak muda tidak lagi bisa cukup dengan
dirinya sendiri. Mereka mulai tertarik dan membutuhkan orang lain.
Sumber
Crain, William. Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Yogyakarta : pustaka
pelajar.

0 komentar:
Posting Komentar